Persiapan menuju Piala Dunia FIFA 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko mulai diwarnai berbagai kontroversi politik internasional. Dalam beberapa waktu terakhir, muncul wacana bahwa Jerman dan Iran berpotensi mempertimbangkan langkah ekstrem berupa boikot turnamen.
Isu ini muncul setelah meningkatnya ketegangan geopolitik global, termasuk konflik militer yang melibatkan Iran serta polemik kebijakan politik di Amerika Serikat yang memicu reaksi dari sejumlah negara Eropa. Meski belum ada keputusan resmi, wacana tersebut menimbulkan perdebatan besar menjelang turnamen sepak bola terbesar di dunia.
Iran Terancam Tidak Tampil
Situasi keamanan di Iran menjadi salah satu faktor utama munculnya wacana boikot. Presiden Federasi Sepak Bola Iran, Mehdi Taj, bahkan sempat menyatakan bahwa kondisi konflik saat ini membuat peluang negaranya tampil di Piala Dunia 2026 menjadi sangat kecil, meski keputusan akhir tetap berada di tangan otoritas olahraga dan pemerintah.
Iran sebenarnya telah memastikan tiket ke putaran final Piala Dunia 2026 melalui kualifikasi zona Asia dan dijadwalkan memainkan pertandingan fase grup di Amerika Serikat. Namun ketegangan geopolitik membuat partisipasi mereka menjadi sorotan.
Jerman Juga Sempat Pertimbangkan Boikot
Selain Iran, wacana boikot juga sempat muncul dari Jerman. Seorang politisi senior Jerman, Jurgen Hardt, menyebut bahwa mundur dari Piala Dunia bisa menjadi opsi terakhir jika konflik politik antara Amerika Serikat dan negara-negara Eropa semakin memburuk.
Meski begitu, banyak pihak menilai langkah tersebut sangat kecil kemungkinannya terjadi karena Jerman merupakan salah satu negara dengan sejarah panjang dan prestasi besar di Piala Dunia.
Negara-Negara yang Pernah Boikot Piala Dunia
Jika Jerman atau Iran benar-benar menarik diri, mereka tidak akan menjadi negara pertama yang melakukan boikot dalam sejarah Piala Dunia. Sejumlah negara pernah mengambil langkah serupa dengan berbagai alasan, mulai dari politik hingga faktor ekonomi.
Beberapa contoh di antaranya:
-
Uruguay (1934 dan 1938) – menolak tampil setelah negara-negara Eropa tidak ikut edisi 1930 di Amerika Selatan.
-
Inggris, Skotlandia, Wales, dan Irlandia – memilih fokus pada turnamen regional dan menilai Piala Dunia belum cukup prestisius.
-
Argentina (1938) – kecewa karena tuan rumah turnamen dipilih dari Eropa.
-
India (1950) – memutuskan mundur meski sempat lolos ke putaran final.
-
Turki (1950) – batal tampil karena biaya perjalanan yang terlalu besar.
-
Uni Soviet (1974) – menolak bermain melawan Chile karena alasan politik.
-
Negara-negara Afrika (1966) – melakukan boikot massal sebagai protes terhadap sistem kualifikasi FIFA.
Turnamen Tetap Berjalan Sesuai Rencana
Hingga saat ini, Piala Dunia 2026 tetap dijadwalkan berlangsung pada 11 Juni hingga 19 Juli 2026 dengan format baru yang melibatkan 48 negara peserta. Meski berbagai isu politik bermunculan, FIFA terus berupaya memastikan turnamen berjalan sesuai rencana.
Banyak pengamat sepak bola menilai bahwa potensi boikot dari negara besar dapat memberi dampak besar terhadap turnamen. Namun sejauh ini, belum ada konfirmasi resmi dari federasi terkait bahwa Jerman atau Iran benar-benar akan menarik diri dari kompetisi tersebut.

