Menjelang penyelenggaraan Piala Dunia FIFA 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, eks-Presiden FIFA Sepp Blatter membuat pernyataan kontroversial yang menjadi perbincangan luas di komunitas sepak bola internasional.
Blatter memberi dukungan terhadap seruan seorang pengacara Swiss yang menyerukan boikot bagi suporter untuk tidak melakukan perjalanan ke Amerika Serikat untuk menyaksikan turnamen tersebut. Pernyataan ini disampaikan Blatter melalui media sosial dan media internasional baru-baru ini.
Alasan di Balik Ajakan Tidak Pergi ke AS
Blatter mendukung komentar dari pengacara anti-korupsi Swiss, Mark Pieth, yang menyatakan bahwa sejumlah isu sosial dan keamanan di Amerika Serikat dapat menjadi alasan bagi suporter untuk mempertimbangkan kembali bepergian ke negara tersebut. Pieth, yang pernah bekerja bersama FIFA untuk reformasi organisasi, menyebutkan bahwa beberapa peristiwa kekerasan dan perlakuan aparat keamanan terhadap warga sipil memunculkan kekhawatiran tentang keselamatan.
Salah satu insiden yang menarik perhatian adalah kasus penembakan dan kematian warga di Minneapolis, yang kemudian dijadikan contoh oleh Pieth sebagai alasan agar pendukung sepak bola tidak melakukan perjalanan ke AS untuk menonton World Cup secara langsung.
Pernyataan Blatter yang Mengundang Kritik
Blatter mengatakan bahwa pernyataan Pieth beralasan dan patut dipertimbangkan oleh para penggemar sepak bola di seluruh dunia. Ia menegaskan bahwa situasi sosial dan hukum yang terjadi saat ini di AS, termasuk cara penegakan hukum terhadap warga maupun pemrotes, membuat banyak orang ragu untuk mengunjungi negara tersebut demi sebuah turnamen olahraga.
Pernyataan semacam ini langsung memicu reaksi beragam dari penggemar, analis olahraga, serta komunitas sepak bola global, karena merupakan suara dari salah satu tokoh terdahulu yang pernah memimpin organisasi sepak bola terbesar di dunia.
Respon terhadap Ajakan Blatter
Meskipun Blatter mendukung ajakan boikot tersebut, banyak pihak mengingatkan bahwa langkah semacam itu tidak memiliki dasar resmi dari federasi sepak bola maupun asosiasi nasional. Hingga kini, belum ada negara atau federasi besar yang secara resmi menyatakan akan menarik diri dari Piala Dunia 2026.
Sejumlah kelompok dan netizen memang mengangkat isu boikot di media sosial, namun para pengamat menyatakan bahwa kemungkinan besar skenario tersebut akan tetap menjadi wacana publik dan diskusi politik — bukan langkah resmi yang akan memengaruhi jalannya turnamen.
Konteks Piala Dunia 2026 dan Isu Keamanan
Piala Dunia 2026 sendiri akan digelar antara 11 Juni hingga 19 Juli 2026, dengan venue di ketiga negara tuan rumah. Turnamen ini menjadi edisi pertama yang menampilkan 48 tim nasional dan telah menarik antusiasme besar dari jutaan fans di seluruh dunia.
Di saat yang sama, sejumlah isu seperti kebijakan imigrasi AS, serta persoalan keamanan dan ketentuan perjalanan internasional menjadi bagian dari perdebatan jauh sebelum pertandingan dimulai — termasuk kekhawatiran bahwa beberapa suporter dari negara tertentu bisa kesulitan mendapatkan visa atau akses masuk.

